TIMIKA. Ternyata di Papua bukan hanya militer Indonesia yang sedang
melakukan pengejaran, penangkapan, dan pembunuhan terhadap manusia Papua tetapi
banyak orang asli Papua yang telah menjadi intel atau mata-mata dari para
penjajah di bumi Papua.
Berikut ini adalah, kisah yang saya alami
dalam mobil tujuan Dogiyai, Deiyai, dan Paniai pada, 5 Agustus 2013
Di Papua, saya melihat dan menyaksikan bahwa banyak orang Papua
yang jalan bergaya-gaya depan masyarakat dengan pistol di sakunya. Ada yang
sengaja pistolnya di digantungkan di depan celana, ada yang bawah di
tangan sementara ada sebagian intel yang pistolnya isi di dalam tas.
Para intel-intel ini bukan hanya memantau situasi dalam
masyarakat tetapi mereka mulai menakut-nakuti masyarakat Papua dengan kata-kata
yang tidak manusiawi seperti, apakah betul kamu mau merdeka?, apakah kamu
adalah OPM?. Sementara itu, intel Orang Papua sering mengatakan “kamu jangan
macam-macam nanti saya tembak kamu, kamu jago apa, kamu besar apa dan lain kata
yang sering dilontarkan kepada masyarakat Papua.
Ada satu orang intel orang asli Papua ikut dalam mobil yang saya
sudah tempati di bangku belakang. Jumlah penumpang dalam mobil adalah 9
orang dihitung dengan sopir. Kami mulai star mobil jam 07:15 malam dari Nabire.
Setelah kami melewati gunung Gegodimi, ada satu orang penumpang
mulai berkata dengan sangat keras “kamu semua diam, tidak ada penumpang yang
bicara-bicara dalam mobil sampai tiba di tempat tujuan”. Beberapa menit
kemudian seorang pemuda itu mulai macam-macam dengan masyarakat Papua atau
penumpang yang ada dalam mobil.
Dalam suasana yang diam kami tiba di kilo meter 70 pada pukul
12:20 malam. Tiba-tiba, seorang pemuda itu mengatakan dengan keras “kamu
jangan macam-macam, saya ini kepala intel di Dogiyai, Deiyai, dan Panai, kalau
ada yang macam-macam nanti saya tembak satu persatu sampai nyawa kamu habis di
tengah hutan ini”.
Sebelum tiba di kilo meter 80, seorang pemuda yang mengaku diri
intel itu menyuruh sopir untuk diberhentikan mobilnya dan mulai tuding
kami dengan pistol yang dia miliki. Tidak hanya itu, para penumpang yang ada
dalam mobil dipaksa turun dari mobil.
Melihat situasi yang mulai memanas itu, saya mengeluarkan kartu
mahasiswa dan mencoba berbicara dengan pemuda yang sedang kacau dalam mobil
itu. Kata saya kepada pemuda yang mengaku diri intel itu, Ini malam jadi
tidak mungkin ada mobil dari belakang, saya mohon bapak harus duduk tenang
supaya kami penumpang itu bisa tiba di tempat tujuan. Waeee, babi
kamu siapa yang bicara?. Kata dia kepada saya sambil melihat saya. Saya
langsung kasih kartu mahasiswa. Kamu mahasiswa itu yang mengacaukan dalam
NKRI, kamu mahasiswa itu yang minta Merdeka sampai mengorbankan rakyat Papua
dan berbagai macam kata yang dia ucapkan kepada saya. Saya hanya mendengar
saja apa yang dia ungkapkan.
Setelah kami melewati kilo meter 100 sekitar pukul 02:30an
malam, seorang yang mengaku diri kepala intel itu mengusir penumpang yang ada
dalam mobil di bangku belakang dan disuruh pindah di kursi depan padahal kursi
depan juga penuh (ada empat orang penumpang). Tidak hanya itu, intel memaksa
sopir untuk diberhentikan mobilnya dan bermalam di tengah jalan padahal mobil
masih stabil dan sopirnya masih semangat untuk menghantar penumpang ke tempat
tujuan masing masing.
Dari kilo meter 130, intel Papua itu menagi uang kepada kami
penumpang yang ada dalam mobil dengan bahasanya “Weeee, kamu semua tambah
ongkos 300 ribu. Kalau kamu tidak sumbang 300 ribu perorang maka kamu semua
turun disini”. Kata intel kepada kami penumpang. Namun kami penumpang
sepakat untuk tidak sumbang akhirnya beberapa menit kemudian dia berdiam diri
Setelah tiba di Deiyai, intel itu memaksa sopir untuk di
turunkan semua penumpang di Tigido saja padahal ada penumpang tujuan Waghete
dan Enarotali. Namun karena sopir masih saja bersih keras untuk menghantar
penumpang ke tempat tujuan masing-masing penumpang maka kami yang penumpang
tujuan Waghete dihantar dengan baik oleh sopir orang Bugis.
Sampai di Waghete, seorang pemuda yang mengaku diri Intel itu
paksa saya untuk tambah ongkos sebesar 500 ribu. Saya tidak terima dengan
baik akan pembicaraan intel itu dan saya langsung tarik dia dari mobil dan
lanjut dengan baku marah. Dalam kemarahan, intel itu mengeluarkan pistol dari
tasnya dan hampir saja tembak saya. Untung ada orang di sekitar itu, kalau
tidak ada orang yang menahan kita dua berarti saya tidak tahu apakah dia duluan
yang korban atau saya yang korban.
Itulah cara-cara yang sedang dijalankan oleh
Orang Asli Papua yang telah menjadi kaki tangan dari Indinesia. Selamat
menjadikan diri anda sebagai anak buah dari penjahahan sebab suatu saat
hasilnya anda sendiri yang akan rasakan dalam waktu yang cepat atau lambat. (Bidaipouga Mote)
Sumber : www.timipotu.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar
silakan komentari